Hadiah Terindah


Jum'at Malam, 17 Juli 2020

Aku bersiap-siap meletakkan perlengkapan ke tas, menunggu dengan cemas. Sedih sekali rasanya harus meninggalkan keluarga, terutama balitaku, semoga tidak lama, doaku.

Jum'at, 10 Juli 2020

Percakapan via WA
"Kak, tolong kirim filenya dan konfirmasi ya, aku perlu sekali datanya untuk rekonsiliasi dengan kementerian."

"Kakak lagi persiapan seminar dek, nanti kalau sempat kakak datang."

Yang ditunggu tak kunjung datang sampai aku pulang dari kantor. 

Sabtu, 11 Juli 2020

Percakapan via telepon
"Kak, difa ke kantor sekitar jam 10, tolong datang untuk konfirmasi data ya kak." Kataku, "Ya dek."Jawab di ujung sana. 

09.52 am
Percakapan via wa
"Difa, kakak ke ruangan difa ya."
"Jam setengah sebelas aja ya kak."
" Gak bisa dek, kakak mau pergi rapat di sekolah anak kakak."
"Kakak kirim aja datanya yg sudah fix, nanti konfirmasi via WA aja ya." Balasku yang masih dirumah, mengingat jarak rumah ke kantor 20 menit.
"Kakak ke sekolah anak kakak ya, nanti kalau sudah selesai kakak jumpain difa."
"Oke kak!"

Sekitar pukul 02.00pm
Percakapan via telepon

"Dek, masih di kantor? " Tanya diujung telepon, "Masih kak" Jawabku, "kakak kesana ya"
Sekitar 10 menit kemudian si kakak yang ditunggu datang, konfirmasi data sekitar 15 menit, duduk cukup berdekatan karena aku membandingkan datanya dengan data pada komputerku, kami berdua menggunakan masker seingatku. 

Rabu, 15 Juli 2020

Aku meraih HP ku yang berdering, atasanku ternyata. 
"Halo, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawabku
"Difa ada jumpa sama xxx ya? "Tanya atasanku. 
"Ia pak"
"Difa ada keperluan apa jumpa sama dia? "
"Minta data pak, kenapa ya pak? " Perasaanku mulai tidak enak
"Dia positif covid-19"
Tanganku langsung bergetar. 
"Difa jaga kesehatan ya, minum vitamin, cukup istirahat, untuk besok tidak usah ke kantor dulu"
"Baik Pak"
Segera setelah menutup telepon langsung kukabarkan pada suamiku, aku yang sedang menyuapi anakku makan langsung berhenti, bergegas membawa barang-barang yang diperlukan untuk tidur di kamar kakakku yang sedang kosong. Kukabarkan juga pada orang tuaku, aku masih tinggal serumah dengan orang tua. 

Anakku? Dia yang masih tiga tahun bertanya-tanya kenapa mamanya memakai masker dirumah? Kenapa gak boleh dekat-dekat mama? Kenapa mamanya pindah kamar? Sampai akhirnya dia menangis karena dia tidak boleh masuk ke kamar tempat aku berada. 

Tak lama kemudian, kembali kumenerima telepon dari atasanku agar aku datang besok pagi ke lab untuk tes swab di sebuah lab kesehatan. 

Tengah malam kumendengar suara anakku menangis memanggilku. Ingin sekali aku datang & menggendongnya, tapi yang kulakukan cuma bisa melihat pintu kamarnya dan berdoa semoga hasil swabku negatif agar aku dapat memeluknya lagi segera. 

Kamis, 16 Juli 2020

09.15am

Aku memarkirkan sepeda motorku di tempat parkir sebuah lab kesehatan. Turun dari motor langsung menuju pintu masuk bagian depan. Sudah beberapa orang menunggu disitu, ada juga seorang bapak yang terlihat menunggu sambil terbatuk-batuk.
Tak lama kemudian aku masuk ke ruang pemeriksaan, dokter ber-APD lengkap menyuruhku duduk di sebuah kursi pada ruangan tersebut. Kemudian dia memasukkan benda seperti cotton bud ke dalam lubang hidungku, cukup dalam, lalu memutarnya dua kali kemudian menariknya kembali. Benda seperti cotton bud tersebut dimasukkan kedalam botol kecil. Lalu dokter menyuruhku membuka mulut dan memasukkan benda yang sama ke mulut, tidak terlalu sakit seperti saat dimasukkan ke hidung. Sama seperti sebelumnya benda seperti cotton bud dimasukkan ke dalam botol, digabungkan dengan sample ku yang dari hidung. 

Aku langsung pulang. Mengganti baju, mencuci baju yang kupakai ke lab kesehatan tadi. 

"Insya Allah hasilnya akan negatif, amiin. Hai hati tenanglah" Ucapku dalam hati. Aku berusaha menata hati agar menjadi biasa saja. Rasanya gelisah sekali semenjak mendengar kabar aku ada kontak dengan positif covid-19.

Jum'at, 17 Juli 2020

Hp ku berdering, dari nomor tak dikenal, segera kuangkat. 
"Halo, Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam, benar ini difa?" Tanya si penelepon diujung sana 
"Ia" Jawabku
"Saya dokter xxxx dari dinkes, difa sudah dapat kabar hasil swabnya? " Tanyanya lagi.
"Belum dok" Jawabku. 
"Difa hasil swabnya positif covid-19."
Aku langsung menangis mendengar kabar ini. 
"Difa sendiri bagaimana keadaannya sekarang? "
"Sehat Alhamdulillah dok."
"Difa tenang aja, insya Allah segera sembuh. Untuk isolasi sebaiknya difa diisolasi di Rumah Sakit ya. "
"Nanti saya diskusikan dulu sama suami dan orang tua ya dokter. "
"Boleh" Jawab dokter. 
Langsung kukabarin mama & suamiku. Dari telfon aku mendengar mama menangis saat mengetahui aku positif covid-19.
Aku memutuskan untuk dirawat di Rumah Sakit walaupun aku tanpa gejala. Pertimbangannya adalah sesuai saran dari Dinkes, dengan perawatan di RS memudahkan untuk diberi tindakan seperti swab selanjutnya, perawatan dari dokter, dan oerawatan lainnya. Dan lagi di Provinsi tempat saya tinggal kasus positif covid-19 masih rendah,  saya tercatat sebagai kasus 145, covid-19 masih momok yang sangat menakutkan, agar tetangga tidak khawatir tertular baiknya aku isolasi di RS. 

Malamnya aku mengabarkan dokter untuk isolasi di RS. Dokter langsung mengarahkan ke petugas RS, saran dari petugas RS baiknya langsung dijemput malam saat tidak terlalu ramai orang, akupun menyetujuinya.

Aku bersiap-siap meletakkan perlengkapan ke tas, menunggu dengan cemas. Sedih sekali rasanya harus meninggalkan keluarga, terutama balitaku, semoga tidak lama, doaku.

Tak lama kemudian ambulance datang, aku yang sudah menunggu di teras menoleh ke dalam rumah dan melambaikan tangan pada suami dan mamaku, aku dapat melihat raut wajah sedih dari keduanya, langsung aku cepat-cepat memalingkan wajah, naik ke ambulance.

Jum'at, 24 Juli 2020

Alhamdulillah, pagi ini aku mendapat telepon dari dokter yang mengabarkan hasil swabku sebanyak dua kali telah keluar dan dua-duanya negatif. Aku dinyatakan sembuh dari covid-19 dan sudah boleh pulang dari RS. Untuk 14 hari kedepan aku diminta untuk isolasi mandiri di rumah. 

Yang paling melegakan lagi dari hasil swab keluarga dan teman sekantor yang ada kontak denganku tidak ada satupun dari mereka yang hasil swabnya positif. Alhamdulillah. Salah satu hal yang paling berat yang aku pikirkan adalah apabila sampai menularkan ke orang lain. 

Di RS juga semua perawat dan dokter baik sekali, semoga Allah juga selalu melindungi mereka dan memberikan mereka kesehatan, Amiin. 

Banyak sekali hikmah yang dapat aku ambil dari hadiah yang Allah berikan kali ini. Yang pertama, aku menyadari bahwa manusia itu lemah sekali. Betapa aku sering lupa, sehebat apapun ikhtiar kita Allah lah sebaik-baik penentu hasil. Hasil sering berbanding lurus dengan ikhtiar, namun, hasil bukanlah buah dari ikhtiar kita. Bukan berarti menghalalkan untuk berhenti ikhtiar. Ikhtiar sendiri merupakan perintah Allah, mungkin dengan ikhtiar kita belum tentu mendatangkan hasil yang kita harapkan, tapi insya Allah ikhtiar kita mendatangkan ridho Allah. 

Yang kedua, betapa Allah Subhanahu wa Ta'ala maha mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Mungkin yang kita kira baik untuk kita belum tentu baik untuk kita. Jujur awalnya sangat sedih waktu tahu aku positif covid-19, namun dikarenakan isolasi mandiri aku jadi lebih banyak waktu lagi untuk ibadah, apalagi alhamdulillah, Allah kasih rezeki sakit saat hampir mendekati bulan dzulhijjah, dan sepuluh hari bulan dzulhijjah sendiri merupakan hari terbaik ibadah. Seperti Allah kasih waktu untuk istirahat dari kesibukan dunia, dan fokus ibadah, Masya Allah. 


وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Yang ketiga mengajarkan untuk lebih bersyukur lagi. Betapa pun aku sedih karena merasa ditimpa musibah, masih banyak orang lain ditimpa musibah yang lebih besar lagi, bahkan dibandingkan dengan saudara kita di Palestina, musibah ini jelas cuma seujung kuku untuk membuatku mengeluh. Bahkan bila dibandingkan dengan umurku, Allah subhanahu wa ta'ala jauh lebih banyak memberi nikmat dibandingkan musibah, lantas layakkah aku mengeluh dengan musibah kecil dari Nya?

Masih banyak hikmah-hikmah lain yang dapat aku ambil dari 'hadiah' ini, insya Allah semoga selalu jadi alarm agar lebih dekat dengan Allah subhanahu wa ta'ala.

Untuk teman-teman semua tetap ikhtiar, tetap pakai masker saat keluar rumah, sering cuci tangan, istirahat cukup, minum vitamin dan tetap berdoa semoga wabah ini segera berlalu, amiin ya Allah ya Rahman ya Rahiim. 

Comments

  1. Masyallah pengalaman luar biasa ini mbaaaa....saya seperti lagi baca cerpen :"

    ReplyDelete
  2. Masya Allah, keep istiqomah ya mba..krna ga smua orang bsa berpikiran sprti itu..smoga sehat2 slalu skeluarga ya Mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin ya Allah, semoga mba' dan keluarga juga selalu sehat 😇

      Delete
  3. masya allah, makasih udah bersedia sharing mbak, semoga sehat selalu 🤗💛

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin ya Allah, semoga kita semua sehat selalu 😇

      Delete
  4. Sedih haru campur aduk banget. Bacanya sampe nangis aku. Ga kebayang lagi gimana perasaannya apalagi punya anak kan.

    ReplyDelete
  5. MashaAllah semoga kita selalu dalam lindungan Allah,. Aamminn

    ReplyDelete
  6. MasyaAllah, terimakasih atas sharingnya mba. Ternyata virus corona ini mudah sekali menular :(. Penting bagi kita semua untuk menjaga kesehatan dan menuruti anjuran dari pemerintah untuk pakai masker dan sering cuci tangan. Semoga wabah inu segera berlalu. Aamin..

    ReplyDelete
  7. MasyaAllah mba, sampe berasa gemeteran bacanya 🥺

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Drama Job Seeker

Manusia Pilihan